Cerita Leak

Leak adalah jelmaan dari para dukun yang mempelajari ilmu hitam di Bali, biasanya mereka memangsa bayi yang baru lahir. Dalam internal masyarakat Bali, Leak diyakini sebagai fenomena mistis. Isu Leak seolah tak akan pernah ada habisnya. Dalam berbagai kesempatan selalu muncul bahasan tentang Leak. Memang segala hal yang masih terkategori mitos, yang darinya menyembulkan katanya-katanya sudah takdirnya selalu membuat banyak orang menjadi penasaran, termasuk soal Leak ini.

Konon, ilmu Leak bisa dirujuk dalam sebuah pertapaan ritual-bathiniah yang disebut dengan tapa (dalam bahasa Sunda: Tatapa). Aktifitas Tapa ini identik dengan api, yang menyimbolisasi kekuatan. Terkait apakah kekuatan tersebut digunakan untuk jalan kebaikan terutama dalam membakar ego diri, atau sebaliknya dipakai untuk jalan keburukan dan mencelakakan orang lain, tergantung dari pribadinya sendiri yang ber-Tapa. Intinya, Tapa ialah api atau energi yang menimbulkan panas.

Adalah Calon Arang atau Randa Dirah yang merupakan tokoh sentral dalam dunia perleakan diyakini banyak kalangan bahwa dirinya telah melakukan praktik Tapa Kebencian dan menyalurkan hasil dari Tapanya itu secara ghaib dan abstrak sehingga menjadi apa yang kini disebut dengan Leak itu. Kemampuan Calon Arang mengekang kebencian dan dendamnya (tapa) melahirkan api (energi panas). Inilah sebabnya Ilmu Leak versi Calon Arang dasar perwujudannya tampak sebagai api (ngendih).

Dan tentu saja, api leak semacam itu sama sekali tidak berpengaruh terhadap mereka yang juga memiliki api sejenis dari tipe dan kualitas yang lebih baik yakni api spiritual. Sebab itu, Mpu Bharadah, Mpu Bahula atau Raja Airlangga (Mpu Jatayu) yang mewakili kekuatan api spiritual tidak mempan oleh serangan kebencian yang terpancar dari api tapas Rondo Dirah. Ini pula lah makna keputusan Bhatari Durga yang mengijinkan Walu Nateng Dirah menebar kekuatan pedestian-nya hanya berlaku untuk masyarakat pinggiran saja, tidak dapat memasuki ibukota kerajaan yang dipimpin Airlangga. Pinggiran disini maksudnya adalah mereka yang berpandangan keluar (duniawi) melekat kepada kesenangan material; cinta akan tahta, keserakahan dan sejenisnya.